Tampilkan postingan dengan label pendidikan & keilmuan. Tampilkan semua postingan

Penerapan Syariat Islam di Indonesia, Seminar Keilmuan oleh Dr. Jeje Zaenuddin

Pada Selasa, (4/10) Pengurus Cabang Istimewa Persatuan Islam (PCI Persis) Mesir menggelar seminar keilmuan yang bertajuk Metode dan Strategi Penerapan Syariat Islam di Indonesia, di aula Pasangrahan KPMJB. Narasumber untuk acara ini adalah Dr. Jeje Zaenudin, seorang penulis buku dan juga Inisiator Ketua MIUMI Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Bidang Hukum. Adapun materi yang dibahas dalam acara ini tidak lain adalah intisari dari disertasi beliau yang berjudul sama dan sudah dibukukan.

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

“_Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat_.”

Penjelasan beliau dalam hadis ini bahwasanya Islam itu seperti tali yang terdiri dari banyak utas-utas. Yang menyatukan tali itu sehingga kuat adalah utasan hukum.
Maka tali hukum (negara) lah yang membuat hukum Islam itu kuat.Sekiranya tidak ada hukum (negara /undang-undang) yang menaungi hukum Islam, maka tali itu tidak akan kuat.

Dalam penjelasannya, Dr. Jeje Zaenudin menjelaskan bagaimana pola penerapan hukum Syariat Islam di Indonesia dan sejarah penerapan syariat Islam itu sendiri sejak zaman Rasulullah hingga saat ini di negara Indonesia.


KETERKAITAN PANCASILA DENGAN ISLAM


Beliau menjelaskan perbedaan antara Tasyri' dan Taqnin. Tasyri' merupakan ketentuan Allah dan Rasul nya yg tidak dapat dirubah seperti dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits. Sedangkan Taqnin adalah hasil ijtihad manusia untuk membuat aturan dalam bentuk undang-undang negara. Adapun dalam membentuk undang-undang negara yang bersumber dari syariat, beliau menyebutkan asas Tadarruj, yakni penerapan secara berangsur-angsur.


Pada saat asas negara dirumuskan, ulama kita terdahulu sudah sangat berusaha memasukkan nilai syariat Islam dalam hukum negara berbentuk Piagam Jakarta yang lahir pada 22 Juni 1945, dengan kalimat "Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" sebagai sila negara pertama. Namun tujuh kata terakhir dihapuskan, sehingga hanya tersisa "Ketuhanan Yang Maha Esa". Mereka pun berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada. Setidaknya masih ada unsur Ketuhanan dalam Indonesia merdeka ini.

Maka sebagaimana dalam rumus strategi, ketika kita tidak bisa menerapkan nya 100% dalam negara, dan hanya ada peluang sebesar 90%, ambil 90% tersebut. Jika hanya 50%, tetap ambil. Pun ketika akhirnya hanya ada 10%, kita akan tetap mengambil peluang tersebut. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah SAW dalam perjanjian Hudaibiyah, di mana saat itu 9 dari 10 isinya merugikan kaum muslimin. Meskipun banyak diprotes para sahabat, namun Rasulullah SAW tetap menyetujuinya. Terbukti pada akhirnya perjanjian inilah yang mengantarkan Islam pada kemenangan berupa penaklukan kota Mekkah (Fathu Makkah).

SEJARAH HUKUM ISLAM


1. Periode Pembentukan: Masa Nubuwwah (23 tahun)

2. Periode Pengembangan: Masa Sahabat (sekitar 10 sampai 100 H)

3. Periode kematangan Fikir: Antara (100-350 H)
Dalam periode ini terjadi banyak inovasi-inovasi oleh para ulama seperti lahirnya Ilmu Mustholah Hadits, Ilmu Ushul Fikih dll.

4. Periode Kejumudan: Antara tahun 350-1300 H
Periode yang kurang berkembang. Dinamika keilmuan kebanyakan hanya berupa Tahqiq mentahqiq, Tafsir ditafsirkan lagi, Tafsir dibuat ringkasan.


5. Periode Kebangkitan/Modern: Antara tahun 1300 sampai sekarang.

HUKUM ISLAM DI INDONESIA


1. Periode pra kolonialisme (abad 8-16)
Hukum Islam ditegakkan secara bertahap pada kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.

3. Periode Kolonialisme (abad ke 17 sampai pertengahan abad 20)
Hukum Islam disingkirkan secara sistematis, terutama hukum pidananya.

4. Periode Orde Lama (1945-1966)
Tidak ada pengundangan hukum Islam yang substantial.

5. Periode Orde Baru (1966-1998)
Pengundangan UU Perkawinan (1974), Peradilan Agama (1989), KHI (1991)

6. Periode Reformasi (1998-2011/akhir penelitian beliau)
Pengundangan UU Haji, Zakat, Wakaf, Revisi Peradilan Agama, UU otonomi Aceh, UU perbankan Syariah, UU SUKUK (Surat-surat berharga), Revisi UU Zakat.

Dalam sejarah hukum Islam di Indonesia ini, beliau menjelaskan bahwa
undang-undang yang pertama kali hukum Syariat ditegakkan adalah undang-undang perkawinan. Kala itu, saking sulitnya UU ini disetujui oleh DPR, sampai satu juta masa mengepung gedung DPR, barulah disetujui oleh DPR.
 

Mengapa sangat sulit? 
Sebelum UU Perkawinan ini dibentuk, beda agama sah-sah saja menjadi suami Istri, LGBT pun sah-sah saja.

Bagaimana hebatnya ulama kita dahulu yang memperjuangkan UU perkawinan untuk dibentuk terlebih dahulu. Karena dari keluarga inilah, yang akan menentukan seseorang akan menjadi Islam atau bukan.
Keluarga adalah pondasi masyarakat. Maka dari keluarga inilah, akan terbentuk masyarakat yang Islami.

POLA HUBUNGAN HUKUM ISLAM DENGAN NEGARA MODERN


1. Islam = Negara
Ini terjadi zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa Ar-Rasyidin. Yaitu seorang kepala negara adalah juga kepala agama, Imam Masjid, dan juga seorang Qadhi (hakim tertinggi). Dan hukumnya pun sepenuhnya hukum Islam yang dipakai.

2. Islam => Negara 

Berlaku pada zaman Dinasti Abasiyah, Umayyah dan kerajaan-kerajaan setelahnya. Kepala negara sudah bergeser sedikit menjadi hanya mengurus administrasi negara saja, tidak selalu sebagai Qadhi dan tidak mesti seorang ulama. Meskipun wilayah negara dan agama berbeda, namun masih ada keterkaitan, karena hukum yang diterapkan adalah hukum Islam.

3. Islam x negara 

Islam dan negara benar-benar dipisahkan secara total. Karena muncul anggapan, jika agama masih menyatu dalam tatanan negara, agama pasti akan dijadikan alat politik (politisasi agama) yang pada ujungnya akan merendahkan agama itu sendiri.

BATASAN TADARRUJ


التدرج في التشريع: هو نزول الأحكام الشرعية على المسلمين شيئا فشيئا طوال فترة البعثة النبوية حتى انتهى بتمام الشريعة و كمال الإسلام
"_Tadarruj dalam pembentukan syariat adalah turunnya hukum syariat kepada kaum muslimin sedikit demi sedikit sepanjang masa kenabian sampai berakhir dengan tamatnya syariat sempurnanya Islam_".

فالتدر في التطبيق هو تطبيق جزئي لبعض الأحكام الشرعية التي تهيأت الظروف المناسبة لها، ثم السعي لتهيئة المجال لتطبيق الجزء الثاني
"_Tadarruj dalam penerapan (syariat) yaitu penerapan sebagian hukum syariat yang telah siap diterima oleh situasi dan kondisi yang terkait dengannya, kemudian berupaya mempersiapkan lapangan (kondisi) untuk menerapkan bagian (hukum) yang berikutnya_".

CAKUPAN LEGISLASI HUKUM ISLAM


Syariat Islam terbagi dua:
1. Hukum Diyani: Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah secara langsung.
2. Hukum Qadha'i: Hukum-hukum yang membutuhkan pengadilan negara.
 

Maka dalam penerapan syariat Islam dalam negara, hanya terbatas pada wilayah Qadha'i saja. Itupun jangan menganut mazhab tertentu, karena akan terjadi kediktatoran terhadap mazhab yang lain. Jadi harus mencakup empat mazhab. Namun jangan terlalu luas juga, batasan hukumnya memakai Ahlu sunnah wal jama'ah.  Sengaja dibatasi sunni saja, karena jika tidak, akan berpotensi melahirkan konflik perpecahan dalam tubuh bangsa, sebagaimana kita lihat banyak terjadi konflik di negara lain antara Sunni dan Syi'ah.

Wallahu A'lam.....


*kiriman Rona Rohmana di grup Whatsapp EIN-Nouza 2015, 7 Okt '16 @04.29 Clt
dengan sedikit gubahan.

Pahlawan yang Sia-sia




Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua belah pihak berjuang dengan sengit untuk mengalahkan antara satu sama lain. Hingga tiba saatnya pertempuran itu diberhentikan untuk istirahat dan kedua pihak pulang ke markas masing-masing.
Di sana Nabi Muhammad SAW dan para sahabat berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di benak mereka. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka yang bernama Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar memburu mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.

"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat.
Mendengar perkataan itu, Rasulullah SAW pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."
Para sahabat menjadi heran mendengar jawapan Rasulullah SAW itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam dapat masuk ke dalam neraka. Mereka berpandangan satu sama lain.

Rasulullah sadar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Saat Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, dengan mata pedang dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya."

"Dia melakukan perbuatan itu adalah karena dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan karena melawan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, orang-orang menyangka dia akan masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka."

Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, "Demi Allah aku berperang bukan karena agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau bukan karena itu, aku tidak akan berperang."

Riwayat ini telah dirawikan oleh Luqman Hakim.

sumber : Kitab Tanbihul Ghafilin
pernah dimuat di Majalah Sabili No 23 / 4 Juni 2009
 ----

Luar biasa akibat daripada niat itu. Melenceng sedikit saja dapat mengubah nasib seseorang di akhirat. Sungguh sia-sia perjuangannya berperang dengan susah payah. Pedihnya luka yang ia dapatkan di jalan Allah justru menjadi awal kepedihan siksa yang akan ia dapatkan selama-lamanya.

Saya pribadi terlalu faqir untuk dapat meneliti keshahihan riwayat tersebut. Allahu A'laa wa A'lam. Namun  jika memang benar, maka kisah di atas pastinya menjadi tamparan keras bagi mereka yang menganggap jihad dapat dilakukan dengan bom bunuh diri adalah bagian dari jihad. 

Jika Qotzman dalam kisah di atas yang membunuh hanya orang musyrik terancam masuk neraka, bagaimana dengan para pelaku bom "jihad" itu, yang aksi mereka kadang memakan korban sesama Muslim dan orang-orang tak bersalah? Padahal Qotzman melakukannya dalam medan perang,dan tidak merugikan siapapun kecuali dirinya. Lantas, bagaimana bisa para pelaku itu mengharapkan janji surga beserta bidadarinya?

Wallahu A'lam bi as-Shawaab

Red: CN 

Belajar Membaca (Lagi)

Pasti banyak yang takjub dengan rahasia sukses Mas Yunus yang sebelumnya sudah kita bahas di profil. Berpikir, kok bisa ya? Kok betah ya?
Oke, sehubungan dengan artikel tersebut, kali ini kita akan membahas sedikit tentang membaca. Bukan sembarang membaca, tapi membaca ala akademisi (ehm..)

Membaca, tidak diragukan lagi, adalah faktor terbesar yang mempengaruhi kapasitas keilmuan seseorang. Makin banyak seseorang membaca, makin banyak wawasannya. Yang selanjutnya, akan membentuk ia menjadi pribadi yang bijak dalam mengemukakan pendapat.

Akhirnya, orang-orang yang seperti inilah yang nantinya akan merekatkan umat. Karena ia memahami suatu masalah dari berbagai sudut pandang pemikiran. Tentu saja, ini salah satu tujuan utama dari manhaj wasathiyah yang diperjuangkan oleh Al-Azhar, bukan?

Selain itu, membaca juga menentukan penguasaan materi.
Ada pernyataan, jika seseorang membaca tentang suatu bidang secara konsisten satu jam saja sehari, maka dalam waktu sepuluh tahun ia akan menjadi ahli dalam bidang tersebut. Jika seseorang selalu membaca tentang ekonomi syariah selama sepuluh tahun, maka wawasannya akan setara dengan ahli ekonomi syariah, bahkan walau ia tidak kuliah di jurusan tersebut.

Begitu luar biasa pengaruh membaca. Sebagai penuntut ilmu, apalagi kita sudah jadi mahasiswa, tidak ada alasan bagi kita untuk kurang membaca.
Tapi, bagaimana cara membaca yang bisa benar-benar bermanfaat untuk perkembangan keilmuan kita?

Ini kiatnya:
1. Buat target waktu khusus membaca.
Sejam dua jam tak masalah, asalkan konsisten.

2. Separuh dari waktu tersebut dialokasikan khusus untuk buku-buku yang berkaitan dengan cabang ilmu yang ingin kalian kuasai. Atau bisa juga sesuai dengan jurusan yang kalian pilih di kuliah.

Misalnya begini. Cabang ilmu yang ingin kamu kuasai adalah tafsir. Dan waktu yang kamu alokasikan untuk membaca itu 2 jam per hari.
Maka, buat satu jam nya khusus untuk buku-buku yang berkaitan dengan ilmu tafsir.
Sedangkan satu jam lainnya, bebas. Asalkan buku yang dibaca benar-benar bernas dan "berbobot".

Pada awal-awal, hal ini sangat sulit. Ada saja rintangannya, entah sibuk, atau tidak sempat. Banyak sekali godaan yang dapat mengalihkan kita dari buku. Atau mungkin tetap membaca, tapi buku yang dibaca hanya berupa komik atau majalah.
Namun di sinilah tantangannya. Bagaimana kita tetap meluangkan waktu untuk buku, dalam keadaan apapun. Karena, jangankan pembaca pemula. Pembaca tingkat lanjut saja masih sering merasa sulit memenuhi target.

Nah nanti, kalau sudah terbiasa membaca dua jam, alokasi waktunya bisa ditambah. Jadi tiga jam, kemudian empat jam. Begitu terus, bertahap, sampai akhirnya gak kerasa sudah sampai enam jam.

Ada yang bilang, "Saya, kalau depan buku, satu jam saja sudah jenuh. Ngantuk. Tapi kalau depan laptop, nonton film sampai tiga jam pun betah. Kenapa ya??"
Itu tidak lain karena kamu belum menikmati aktifitas membaca sebagaimana kamu menikmati kegiatan menonton film.
Lantas, bagaimana caranya supaya membaca bisa senikmat nonton film??
Ya baca aja terus. Teruslah membaca, jangan menyerah.

Mas Yunus pernah berkata, kita tidak belum dikatakan menikmati aktifitas membaca sampai kita bisa menghabiskan paling tidak SEPULUH jam perhari untuk itu. Pada saat itu (saat kamu sudah menikmati membaca), kamu akan merasa membaca itu kebutuhan pokok hidupmu. Tidak betah melewati sejam pun tanpa membaca di dalamnya. Dan membaca, kalau sudah nikmat, kamu bisa lupa sekitar, bahkan sampai lupa lapar dan haus.

Subhânallâh... pantas saja beliau mampu membaca 15 jam per hari. Ternyata itu karena beliau sudah benar-benar menikmati aktifitas membaca. Kalau kalian ingin merasakannya juga, maka mulailah paksakan diri untuk membaca sekarang juga.

Ingat, negeri kita masih sangat menantikan lahirnya para ulama dan ahli ilmu agama. Jadi, jurusan ilmu apapun yang kalian ambil, jadilah ahli di dalamnya.

Siap membaca??

--
Red: CN

Mengenal Mas Yunus: Quraish Syihab edisi Akidah-Filsafat

Nama lengkapnya Mohammad Yunus Masrukhin, biasa disapa Mas Yunus. Yang sudah akrab bahkan kadang menyebutnya Pakdhe Yunus.
Beliau berasal dari Pati Jawa Tengah, dan dikenal sebagai Wakil Katib Syuriah Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir, juga salah satu senior di kelompok kajian ilmiah masisir Al-Mizan Study Club.

Dibalik kesederhanaan sikap dan penampilannya, ternyata beliau menyimpan segudang prestasi yang luar biasa. Apa sajakah itu? Berikut yang saya (penulis) tahu, dari berbagai sumber.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Selasa (29/12) beliau berhasil meraih gelar doktor dalam Bidang Akidah dan Filsafat dari Universitas Al-Azhar dengan predikat summa cum laude (Mumtâz ma'a Martabat al-Syaraf al-Ûlâ), yang mana merupakan predikat tertinggi bagi kelulusan seorang mahasiswa.

Oh ya, perlu kalian tahu, gelar Cum Laude hanya akan diberikan kepada mahasiswa yang lulus tepat waktu. Dan ternyata memang beliau tidak pernah mengalami rasib selama studinya.

Saat menempuh S2, tesis Mas Yunus yang berjudul "Al-Wujud wa Al-Zaman fi Al-Khithab Al-Shufi 'Inda Ibn Arabi" (Eksistensi dan Waktu dalam Diskursus Sufistik Perspekstif Ibn Arabi) dilirik oleh salah satu penerbit Timur Tengah yang akhirnya menerbitkan tesis tersebut tahun lalu. Buku yang kini bisa kita dapatkan di Maktabah Madbuli tersebut merupakan karya tulis mahasiswa Indonesia pertama yang diterbitkan di Mesir.

Selain buku yang diterbitkan di Mesir, ada juga karya beliau yang sudah diterbitkan di Indonesia, antara lain sebuah buku berjudul Biografi Ibnu Arabi: Perjalanan Spiritual Mencari Tuhan Bersama Para Sufi, diterbitkan oleh Keira Publishing pada Februari tahun lalu.

Subhânallâh...
Apa rahasianya, hingga beliau bisa meraih capaian yang begitu banyak dan membanggakan?

Mas Yunus dikenal sebagai orang yang sangat banyak membaca buku. Dapat dikatakan, waktunya habis digunakan untuk membaca. Buku jenis apapun: kitab turots, pemikiran kontemporer, radikal, liberal, berbahasa Arab maupun Inggris, habis dibacanya.

Seorang kawannya mengatakan, sejak awal kuliah, Mas Yunus memang punya semangat belajar dan ambisi keilmuan yang luar biasa. Beliau menargetkan dirinya sendiri untuk membaca selama 15 jam per hari. Untuk bisa mencapainya, beliau rela tidur hanya 4 jam. Dan hal itu beliau jalankan bertahun-tahun dengan penuh disiplin.

Dengan waktu membaca sebanyak itu, ditambah semangat dan kedisiplinan yang tinggi, tak heran beliau dapat mencapai prestasi yang demikian hebat. Tak berlebihan rasanya jika beliau disandingkan dengan Pak Quraish Syihab. Sama-sama orang Indonesia lulusan Azhar yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Bedanya, Pak Quraisy dalam Tafsir, sedangkan beliau dalam bidang Akidah-Filsafat.

Bagaimana, tertarik jadi penerus Mas Yunus dan Pak Quraisy?
Bacalah buku sebanyak-banyaknya. Jangan cuma muqarrar kuliah ya...

Simak juga kiat membaca seperti beliau di sini.

--
Red: CN

Haflah Maulid Nabi 1437 H di DL

SELASA (22/12). Siang itu ratusan mahasiswa memadati auditorium Markaz Lugoh, Hay Sadis. Mereka menghadiri acara haflah yang diselenggarakan oleh al-Azhar al-Sharif Al-Sheikh Zayed Center for NON Native bekerja sama dengan The World Association for al-Azhar Graduates (WAAG). Adapun tujuannya adalah untuk memperingati Maulid Nabi yang jatuh tepat pada hari esoknya, sekaligus merayakan Hari Bahasa Arab sebagai Bahasa International yang bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2015 lalu.

Turut hadir dalam haflah tersebut Grand Syaikh Al-Azhar Syaikh Ahmad Thayyib, beberapa syaikh dan dosen dari Universitas Al-Azhar, beserta perwakilan dari pimpinan WAAG Al-Azhar.

Haflah dibuka dengan lantunan bacaan Al-Quran oleh Syaikh Usamah al-Azhariy yang indah dan luar biasa, karena beliau membacanya secara hafalan di luar kepala.
Kemudian dilanjutkan oleh penampilan nasyid dari kelompok munsyid mahasiswa Al-Azhar. Mereka dengan apik membawakan syair Arab yang cukup panjang, yang mana berisi puji-pujian kepada Nabi junjungan Muhammad SAW.

Berikutnya adalah nasihat dan pesan dari para ulama', yang mana intinya menekankan pada kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan kelebihan beiau dibanding para Nabi lainnya. Tak terlewatkan pula penjelasan tentang bolehnya memperingati Maulid Nabi dan bantahan terhadap mereka yang mengharamkannya.

Yang istimewa, turut diundang dalam haflah tersebut perwakilan pemuda dan pemudi asal Brazil sebagai pembicara tamu. Mereka adalah para muallaf yang juga belajar Bahasa Arab di Markaz Lughah Sheikh Zayed Mesir. Meskipun Bahasa Arab mereka masih terbata-bata, namun dengan semangat mereka berbicara tentang keinginan mereka untuk terus mempelajari agama Islam di Mesir, khususnya Al-Azhar. Mereka juga membuat para hadirin terharu ketika mendengar cita-cita mereka mengajarkan dan menyebarkan Islam di Amerika Latin.

Tidak ketinggalan penampilan kelompok munsyid dari pelajar Markaz Lughah yang memukau. Para hadirin pun sampai ikut bernasyid "Qamarun Sidnan Nabiy" bersama mereka, yang sekaligus menandai berakhirnya acara pada sore hari itu.

Red: CN






LAPORAN BULANAN BAGIAN : PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN KEILMUAN





BAGIAN : PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN  KEILMUAN

 Bulan : November

#Hasil Kerja
1.       Mengadakan pengenalan kelompok diskusi HIWAR (21/11)
2.       Melaporkan hasil kegiatan
3.       Bekerja sama dengan bagian Publikasi Dokumentasi dalam membuat posting di blog EIN-Nouza

#Evaluasi
*Program belum terlaksana
1.       Membuat buletin

*Kendala
1.       Belum ada kontributor untuk buletin

#Rencana Program Bulan Desember
1.       Rihlah maktabah

“Rihlah Maktabah” (HIWAR)

                Jadi jikalau teman-teman yang lainya ingin mengetahui refrensi buku-buku terbaik untuk anda miliki, segera daftarkan diri anda di komunitas HIWAR (Himpunan Cendekia Warga Jawa Barat) karena kita akan belajar banyak tentang buku- buka dan perpustakaan, dan masih banyak pelajaran yang lainya…  terbuka untuk umum kok…
















        
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com