Mengenal Mas Yunus: Quraish Syihab edisi Akidah-Filsafat
Nama lengkapnya Mohammad Yunus Masrukhin, biasa disapa Mas Yunus. Yang sudah akrab bahkan kadang menyebutnya Pakdhe Yunus.
Beliau berasal dari Pati Jawa Tengah, dan dikenal sebagai Wakil Katib Syuriah Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir, juga salah satu senior di kelompok kajian ilmiah masisir Al-Mizan Study Club.
Dibalik kesederhanaan sikap dan penampilannya, ternyata beliau menyimpan segudang prestasi yang luar biasa. Apa sajakah itu? Berikut yang saya (penulis) tahu, dari berbagai sumber.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Selasa (29/12) beliau berhasil meraih gelar doktor dalam Bidang Akidah dan Filsafat dari Universitas Al-Azhar dengan predikat summa cum laude (Mumtâz ma'a Martabat al-Syaraf al-Ûlâ), yang mana merupakan predikat tertinggi bagi kelulusan seorang mahasiswa.
Oh ya, perlu kalian tahu, gelar Cum Laude hanya akan diberikan kepada mahasiswa yang lulus tepat waktu. Dan ternyata memang beliau tidak pernah mengalami rasib selama studinya.
Saat menempuh S2, tesis Mas Yunus yang berjudul "Al-Wujud wa Al-Zaman fi Al-Khithab Al-Shufi 'Inda Ibn Arabi" (Eksistensi dan Waktu dalam Diskursus Sufistik Perspekstif Ibn Arabi) dilirik oleh salah satu penerbit Timur Tengah yang akhirnya menerbitkan tesis tersebut tahun lalu. Buku yang kini bisa kita dapatkan di Maktabah Madbuli tersebut merupakan karya tulis mahasiswa Indonesia pertama yang diterbitkan di Mesir.
Selain buku yang diterbitkan di Mesir, ada juga karya beliau yang sudah diterbitkan di Indonesia, antara lain sebuah buku berjudul Biografi Ibnu Arabi: Perjalanan Spiritual Mencari Tuhan Bersama Para Sufi, diterbitkan oleh Keira Publishing pada Februari tahun lalu.
Subhânallâh...
Apa rahasianya, hingga beliau bisa meraih capaian yang begitu banyak dan membanggakan?
Mas Yunus dikenal sebagai orang yang sangat banyak membaca buku. Dapat dikatakan, waktunya habis digunakan untuk membaca. Buku jenis apapun: kitab turots, pemikiran kontemporer, radikal, liberal, berbahasa Arab maupun Inggris, habis dibacanya.
Seorang kawannya mengatakan, sejak awal kuliah, Mas Yunus memang punya semangat belajar dan ambisi keilmuan yang luar biasa. Beliau menargetkan dirinya sendiri untuk membaca selama 15 jam per hari. Untuk bisa mencapainya, beliau rela tidur hanya 4 jam. Dan hal itu beliau jalankan bertahun-tahun dengan penuh disiplin.
Dengan waktu membaca sebanyak itu, ditambah semangat dan kedisiplinan yang tinggi, tak heran beliau dapat mencapai prestasi yang demikian hebat. Tak berlebihan rasanya jika beliau disandingkan dengan Pak Quraish Syihab. Sama-sama orang Indonesia lulusan Azhar yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Bedanya, Pak Quraisy dalam Tafsir, sedangkan beliau dalam bidang Akidah-Filsafat.
Bagaimana, tertarik jadi penerus Mas Yunus dan Pak Quraisy?
Bacalah buku sebanyak-banyaknya. Jangan cuma muqarrar kuliah ya...
Simak juga kiat membaca seperti beliau di sini.
--
Red: CN
Beliau berasal dari Pati Jawa Tengah, dan dikenal sebagai Wakil Katib Syuriah Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir, juga salah satu senior di kelompok kajian ilmiah masisir Al-Mizan Study Club.
Dibalik kesederhanaan sikap dan penampilannya, ternyata beliau menyimpan segudang prestasi yang luar biasa. Apa sajakah itu? Berikut yang saya (penulis) tahu, dari berbagai sumber.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada Selasa (29/12) beliau berhasil meraih gelar doktor dalam Bidang Akidah dan Filsafat dari Universitas Al-Azhar dengan predikat summa cum laude (Mumtâz ma'a Martabat al-Syaraf al-Ûlâ), yang mana merupakan predikat tertinggi bagi kelulusan seorang mahasiswa.
Oh ya, perlu kalian tahu, gelar Cum Laude hanya akan diberikan kepada mahasiswa yang lulus tepat waktu. Dan ternyata memang beliau tidak pernah mengalami rasib selama studinya.
Saat menempuh S2, tesis Mas Yunus yang berjudul "Al-Wujud wa Al-Zaman fi Al-Khithab Al-Shufi 'Inda Ibn Arabi" (Eksistensi dan Waktu dalam Diskursus Sufistik Perspekstif Ibn Arabi) dilirik oleh salah satu penerbit Timur Tengah yang akhirnya menerbitkan tesis tersebut tahun lalu. Buku yang kini bisa kita dapatkan di Maktabah Madbuli tersebut merupakan karya tulis mahasiswa Indonesia pertama yang diterbitkan di Mesir.
Selain buku yang diterbitkan di Mesir, ada juga karya beliau yang sudah diterbitkan di Indonesia, antara lain sebuah buku berjudul Biografi Ibnu Arabi: Perjalanan Spiritual Mencari Tuhan Bersama Para Sufi, diterbitkan oleh Keira Publishing pada Februari tahun lalu.
Subhânallâh...
Apa rahasianya, hingga beliau bisa meraih capaian yang begitu banyak dan membanggakan?
Mas Yunus dikenal sebagai orang yang sangat banyak membaca buku. Dapat dikatakan, waktunya habis digunakan untuk membaca. Buku jenis apapun: kitab turots, pemikiran kontemporer, radikal, liberal, berbahasa Arab maupun Inggris, habis dibacanya.
Seorang kawannya mengatakan, sejak awal kuliah, Mas Yunus memang punya semangat belajar dan ambisi keilmuan yang luar biasa. Beliau menargetkan dirinya sendiri untuk membaca selama 15 jam per hari. Untuk bisa mencapainya, beliau rela tidur hanya 4 jam. Dan hal itu beliau jalankan bertahun-tahun dengan penuh disiplin.
Dengan waktu membaca sebanyak itu, ditambah semangat dan kedisiplinan yang tinggi, tak heran beliau dapat mencapai prestasi yang demikian hebat. Tak berlebihan rasanya jika beliau disandingkan dengan Pak Quraish Syihab. Sama-sama orang Indonesia lulusan Azhar yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Bedanya, Pak Quraisy dalam Tafsir, sedangkan beliau dalam bidang Akidah-Filsafat.
Bagaimana, tertarik jadi penerus Mas Yunus dan Pak Quraisy?
Bacalah buku sebanyak-banyaknya. Jangan cuma muqarrar kuliah ya...
Simak juga kiat membaca seperti beliau di sini.
--
Red: CN

0 komentar: